Friday, 13 March 2015

GARUDA DALAM AL-QUR'AN

Garuda adalah salah satu dewa dalam mitologi agama Hindu dan Budha. Ia jelmaan burung setengah manusia wahana dewa Wisnu. Ia pun raja para burung, musuh para ular, bertubuh warna emas, berwajah putih, bersayap merah. Paruh dan sayapnya mirip elang, tetapi tubuhnya mirip manusia. Ukurannya sangat besar hingga menutupi matahari. Demikian penulis kutip dari Wikipedia.
Garuda mirip dengan burung-burung mitologi lain yang lazim dikenal di berbagai belahan dunia dengan nama, latar, dan cerita yang sedikit berbeda. Misalnya Feng Huang di Cina, Karura (Ho-Oo) di Jepang, dewa Horus (termasuk Ba atau Ra) di Mesir, dan Poenix di Yunani (Eropa) dan Amerika. Namun, apapun latar ceritanya, mitologi-mitologi itu menyebut burungnya sebagai raja para burung, dewa, dan simbol keabadian.
Apakah ada burung garuda di Al-Qur'an? Kalau burung, banyak, misalnya burung ababil, Hud-hud, gagak, dan burung yang hadir dalam mimpi rekan Nabi Yusuf di penjara. Namun, dari sekian banyak burung dalam Al-Qur'an, burung nasar adalah yang paling mirip dengan garuda.

Allah menyebut burung nasar satu kali dalam Al-Qur'an, yaitu pada surah Nuh. Itu pun tidak menunjuk langsung kepada burung, tetapi berhala kuno berbentuk burung nasar. Namun, justru, burung nasar sebagai berhala kuno yang disembah manusia menjadi sisi termiripnya dengan burung garuda.
Menurut riwayat Al-Bukhari, Nasar (sebut Garuda) adalah satu dari lima berhala besar yang disembah sejak zaman Nabi Nuh, hingga kemudian berpindah tangan ke suku Arab Himyar, yaitu Dzu Al-Kala' dan Khats'am. Awalnya, Nasar bersama Wadd, Suwa', Yaghuts, dan Ya'uq adalah orang-orang shalih yang kemudian dibuatkan patung setelah mereka meninggal untuk mengenang. Tak ada yang menyembahnya saat itu, namun setelah berganti generasi, mereka menyembahnya.
Mengapa berbentuk hewan? Bukankah Nasar itu manusia yang shalih, ataukah karena sesuai dengan namanya, Nasar? Al-Damiri (w. 808 H.) menyebutkan, Taurat melambangkan orang-orang shalih dengan burung nasar. Hingga, apabila burung nasar hadir dalam mimpi, maka ditakwilkan nabi atau orang shalih (Hayat Al-Hayawan, 2/479). Mungkin, itulah mengapa kemudian berhala orang shalih dirupakan burung nasar.
Banyak raja purba yang mengaku Tuhan. Mereka pun akrab dengan burung nasar, juga berhala Nasar. Raja pertama di bumi serta yang pertama mengaku tuhan, atau lebih tepatnya mengaku titisan Tuhan, Namrud, pernah terbang bersama empat ekor nasar hingga mencapai ketinggian di mana bumi terlihat seakan gumpalan tanpa bentuk. Ia hendak menantang Allah yang ai duga ada di langit (Tafsir Muqatil Ibn Sulaiman, 2/412). Menurut Ibn Asyur, kaum Namrud adalah bangsa Kaldania yang menyembah berhala Nasar, atau yang disebut Nasruh (Tafsir Ibn Asyur, 17/94)
Nebo (Bukhtanashar), raja dan penakluk yang kejam dari Babilonia dilambangkan dengan burung nasar, karena dianggap titisan Tuhan. Karena kezalimannya, kemudian Allah mengubah wujud Nebo menjadi burung nasar setelah sebelumnya menjadi singa, selama tujuh tahun, sementara akalnya tetap sadar, hingga kemudian, menurut satu riwayat, Nebo menjadi bertauhid menjelang kematiannya. (Hayatul Hayawan, 2/475)
Tak uabhnya burung garuda, burung nasar pun identik dengan musuh para ular. Cerita burung nasar sebagai musuh ular hadir dalam kenangan Rasulullah Saw. sebelum kenabian. Seekor burung misterius berukuran besar, lebih besar dari burung nasar biasa, hitam punggungnya, putih perut dan kedua kakinya, terlihat oleh Quraisy saat merenovasi Ka'bah. Burung itu membunuh ular yang menghalangi mereka ke dinding Ka'bah yang akan dipugar (Tafsir Ibn Katsir, 7/123)
Suatu ketika, ayat-ayat burung, atau disebut ayat al-gharaniq, pun pernah disusupkan setan kepada bacaan Rasulullah Saw. dalam surah Al-Najm, hingga terjadi fitnah besar, bahkan hingga dibaca ulang oleh para orientalis modern untuk menghujat beliau, dengan dalih Al-Qur'an melegalkan penyembahan terhadap berhala burung.
Burung nasar, dalam pepatah Arab, adalah lambang panjang umur, mirip mitos keabadian dalam legenda burung phoenix di Eropa dan garuda di Asia Tenggara. Umur burung nasar dipercaya bisa mencapai lima ratus, bahkan seribu tahun. Luqman Al-Hakim, sosok ayah yang bijaksana dalam Al-Qur'an, mempunyai sisi kehidupan yang bersinggungan langsung dengan burung nasar.
Luqman memelihara burung nasar dan melatihnya hingga bisa diperbantukan untuk bekerja. Nasar miliknya hidup seribu tahun. Setelah itu, Luqman memelihara nasar yang hidup 500 tahun. Kemudian terus memlihara lagi, hingga mencapai tujuh ekor, yang masing-masing berumur 500 tahun. Burung nasar yang terakhir bernama Lubad. Kata Luqman: "Umarku ditentukan burung nasar yang ketujuh."
Berdasarkan riwayat lain, umur burung nasar yang dipelihara Luqman tidak ada yang sampai seribu tahun, melainkan berkisar antara delapan puluh hingga 200 tahun, dan Lubad adalah yang paling panjang umurnya, yaitu 700 tahun (Tafsir Al-Sam'ani, 6/71)
Burung nasar, sesuai mitos panjang umur yang melekat padanya, selalu mengingatkan manusia seraya berkata: "Hai anak Adam, hiduplah semaumu, karena, sepanjang apapun umur kamu, kamu akan mati juga," sebagaimana diriwayatkan Al-Tsa'labi (w. 427 H.) dalam Al-Kasyf Wa Al-Bayan halaman 195.
Nasar pun sering disebut Abu Al-Thair, bapak para burung. Sebuah hadits, kendati dha'if, bahkan menyebut burung nasar dengan sayyid al-thuyur, raja para burung (Tafsir Muqatil Ibn Sulaiman, 777). Menurut satu riwayat, burung nasar pun disebut ifrit al-thuyur, atau "ifritnya para burung" (Tafsir Ibn Katsir, 5/301).
Tampak kemiripannya dengan burung garuda. Tak salah kiranya apabila kemudian penulis menyebut burung nasar dengan "Garuda Arab."
Terlepas dari penyimpangan manusia purbakala yang menuhankan Nasar hingga disebut Al-Qur'an sebagai simbol kufur paling tua, burung nasar pun sering diidentikan dengan para malaikat yang bertauhid, meski menjadi mirip dengan legenda garuda sebagai burung jelmaan dewa yang berkepala burung dan bertubuh manusia. Al-Darimi (w. 280 H.) dalam Naqdh 'Abi Sa'id 'Utsman Ibn Sa'id 'Ala Al-Muraisi Al-Jahmi Al-'Anid Fima Iftara 'Alallaahi 'Azza Wa Jall Min Al-Tauhid halaman 478 menyebutkan, salah satu malaikat penyangga 'Arasy ada yang berbentuk burung nasar (baca; garuda). Burung yang diharamkan dan diagungkan dalam Taurat. (Takhjil Min Harf Al-Taurat Wa Al-Injil, 545)
Langit kelima dihuni sejumlah makhluk (malaikat) berbentuk burung nasar (Al-Haba'ik Fi Akhbar Al-Malaik, 151). Kursi Allah yang luasnya melebihi langit dan bumi disangga empat malaikat dengan rupa yang berbeda.
Salah satu rupa malaikat penyangga Kursi Allah adalah pemimpin para burung (sayyid al-thuyuur), yaitu burung nasar. Ia terus meminta rizqi kepada Allah untuk para burung (Tafsir Muqatil Ibn Sulaiman, 213)
Burung nasar, dengan diamini salah satu malaikat penyangga Kursi, selalu berdoa : "Ya Allah, sayangilah burung-burung, jangan siksa mereka, lindungilah mereka dari bekunya musim dingin dan teriknya musim panas, dan jadikanlah aku termasuk yang mendapatkan syafaat Muhammad Saw" (Nuzhatul Majalis wa Muntakhab Al-Nafa'is, 2/116)
Selain malaikat penyangga 'Arasy dan Kursi, burung nasar pun menjadi salah satu wajah kilat yang menyambar. Menurut sebuah riwayat, kilat adalah malaikat dengan empat wajah, yaitu manusia, banteng, burung nasar, dan singa (Tafsir Al-Thabari, 1343).
Burung nasar pun hadir dalam cerita dan pengalaman spiritual para nabi. Misalnya, saat kehilangan Hud-hud, Nabi Sulaiman berkata kepada burung nasar, sebagai burung terpandai dan ketua para burung di kerajaannya: "Di mana Hudhud?" Burung nasar menjawab: "Semoga Allah menjadikan kerjaanmu tetap baik. Aku tidak tahu di mana Hud-hud, dan kupun tak mengirimnya ke suatu tempat." Hud-hud, saat pulang, langsung diinterogasi burung nasar (Al-Kasyf Wa Al-Bayan, 200-201)
Saat Nabi Sulaiman menaiki singgasana dan menapakkan kedua kakinya di atas tangga pertamanya, singgasana berputar. Lalu singa membentangkan tangan kanannya sedang burung nasar melebarkan sayap kirinya. Nabi Sulaiman meniti tangga kedua, singa membentangkan tangan kirinya, sedang burung nasar melebarkan sayap kanannya, hingga Nabi Sulaiman sampai di tangga ketiga dan duduk di kursi. Kemudian nasar meletakan mahkota di kepala Nabi Sulaiman (Tafsir Ibn Katsir, (7/70)
Nabi Ibrahim, bapak para nabi, dalam salah satu perjalanannya mencapai makrifat, bersinggungan dengan burung nasar. Surah Al-Baqarah, mengisahkan Nabi Ibrahim memotong-motong empat ekor burung yang kemudian dihidupkan kembali setelah daging, tulang, bulu, jeroan, dan kulitnya diaduk-aduk dan dipisah-pisah di empat gunung. Salah satunya adalah burung nasar, sebagai simbol lumpuhnya sifat thulul amal (panjang angan-angan) pada manusia (Ghara'ib Al-Tafsir..., 230)
Saat bapak manusia, Nabi Adam, diturunkan ke bumi, terselip kisah burung nasar sebagai bapak para burung. Saat itu, di bumi belum ada makhluk kecuali burung nasar di darat dan ikan paus di laut. Burung garuda bermalam di samping ikan paus. Saat burung garuda melihat Adam, ia berkata: "Hai Paus, telah turun makhluk aneh yang berjalan tegak di atas dua kaki dan bisa menggenggam dengan tangan." Paus berkata, "Jika kamu benar, aku di laut tak aman lagi, dan kamu di darat tak aman pula" (Tafsir Al-Qurthubi, 327)
Sebetulnya, burung nasar buka sekadar mitologi. Ia adalah burung pemakan bangkai, atau disebut burung hering. Ketik, misalnya "hering" di Wikipedia. Menurut riset Al-Damiri, nasar adalah jenis burung yang tak asing bagi orang Arab. Jantannya mempunyai kunyah (nama panggilan) Abu Al-Abrad, Abu Al-Ushbu', Abu Malik, Abu Al-Minhal, dan Abu Yahya. Sedang betinanya mempunyai kunyah 'Ummu Qasy'am.
Burung nasar ditakuti para burung predator, karena fisiknya yang besar, sayapnya yang kuat, dan mampu terbang jauh dengan cepat, sedang nasar sendiri bukan predator. Ia mampu mencium aroma bangkai dari radius empat ratus farsakh. Sering kekenyangan hingga kesulitan terbang, dan sedih ditinggalkan kekasihnya.
Namun kemudian muncul banyak mitos seputar burung nasar, misalnya, dalam satu hari, burung nasar dapat mengelilingi bumi, dari Timur ke Barat. Burung nasar jantan, saat betinanya akan bertelor, suka terbang ke India untuk mengambil batu mirip kelapa yang, apabila digerakkan, mengeluarkan suara seperti bunyi lonceng. Apabila diletakan di bawah perut atau di atas punggung betinanya, maka hilanglah kesulitan dalam mengeluarkan telor.
Banyak mitologi Isra'iliyah yang masuk kedalam Islam berkenaan dengan burung nasar. Misalnya, suatu ketika, Musa bertanya kepada Tuhan: "Siapakah orang yang paling mulia bagi-Mu." Tuhan berkata: "Orang yang paling cepat memenuhi keinginan-Ku secepat burung nasar memenuhi keinginannya." Kemudian Yusuf Al-Maqdisi (w. 658 H.) dalam 'Iqd Al-Durar Fi Akhbar Al-Muntazhar (231), mengutip penyataan Ka'b Al-Akhbar: "Imam Mahdi itu khusyuk kepada Allah seperti burung nasar mengepakan sayapnya."
Para ilmuwan pun memberikan nama nasar (garuda) pada salah satu rasi bintang. Al-Haqqi (w. 1127 H.) mengatakan, rasi bintang Al-Jauza adalah burung nasar (garuda) (Ruh Al-Bayan, 10/383). Rasyid Ridho (w. 1354 H.) mengemukakan, bintang nasar, cahayanya sampai kepada kita dalam waktu 30 tahun, karena jaraknya 180000000000000 (Al-Manar, 7/531)
Selain malaikat, burung nasar (garuda) sering dihubungkan dengan bidadari. Berdasarkan riwayat, bulu mata bidadari lebih panjang dari sayap burung garuda (Tafsir Yahya Ibn Salam, 831)
Burung garuda (nasar) simbol kestabilan bumi. Allah menciptakan bumi seperti burung garuda. Kepalanya adalah Syam, dua sayapnya Timur dan Barat, dan ekornya Yaman. Manusia akan hidup apabila kepalanya utuh dan sehat. Jika kepala itu dicabut, maka manusia mati. Demikian pula bumi. Akan selalu ada pembela yang datang dari Syam untuk menjaga "kepala" itu (Al-Dur Makntsur, 3/530)
Pengaruh burung dalam mitologi peradaban kuno terasa hingga saat ini. Banyak negara yang menjadikan burung sebagai lambangnya. Indonesia salah satunya. Termasuk pula, negara yang mengaku paling rasional, Amerika, dan negara Arab, Mesir. Kata Syeikh Sya'rawi (w. 1418 H.), lambang negara ini (Mesir) adalah nasar. (Tafsir Al-Sya'rawi, 5/2898)
Anda mungkin masih ingat Kstaria Baja Hitam, atau rider-rider lainnya. Wujud pahlwan Jepang itu belalang. Kenapa belalang? Coba perhatikan kalimat Ibn Katsir berikut: "Belalang itu punya sayap burung nasar, kepala kuda, leher banteng, dada singa, kaki unta, ekor ular, dan perut kalajengking." (Tafsir Ibn Katsir, 3/363)
Demikian, garuda di Al-Qur'an adalah burung nasar, berhala kuno sejak zaman nabi Nuh, simbol paganisme, setan, dan kental dengan mitos isra'iliyyah, meski kemudian sejumlah ulama mengadopsi sebagian falsafahnya selama sejalan dan seirama dengan ajaran Islam.
Wallaahu A'lam
Deden Muhammad Makhyaruddin.

No comments:

Post a Comment